“Di Antara Jalan, Tawa, dan Doa”.

28 Desember 2025 menjadi tanggal yang tak pernah saya lupakan. Pagi itu, langit di Pulau Timor masih berwarna kelabu kebiruan ketika saya dan sahabat saya, Vian Nura, bersiap melakukan perjalanan menuju Kefamenanu—atau yang biasa disebut Kefa. Itu adalah perjalanan pertama saya ke sana, dan entah mengapa hati saya dipenuhi campuran rasa gugup dan antusias.

Pukul 06.00 tepat, motorku mulai melaju membelah udara pagi. Ia duduk tegap di depan, kedua tangannya mantap memegang setang, sementara saya duduk di belakang sambil menikmati angin yang menyentuh wajah. Udara masih sejuk, aroma tanah dan rerumputan yang basah oleh embun terasa begitu segar. Sepanjang perjalanan, saya terpaku pada pemandangan alam yang terhampar luas—perbukitan hijau, ladang jagung yang menguning, dan pepohonan lontar yang berdiri kokoh seakan melambai menyapa.

“Bagaimana? Seru, kan?” teriak Vian sedikit menoleh.

“Sangat seru! Baru satu jam saja sudah begini indahnya,” jawab saya sambil tersenyum lebar.

Kurang lebih satu jam perjalanan, kami tiba di Pasar Buah Soe. Suasana pasar begitu hidup. Para pedagang berjejer menjual berbagai macam buah: jeruk yang mengilap, apel merah segar, pisang dalam satu sisir besar, hingga mangga yang harum menggoda. Warna-warni buah itu berpadu dengan suara tawar-menawar yang riuh, menciptakan harmoni khas pasar pagi.

Kami memutuskan untuk beristirahat sejenak. Di sebuah warung kecil di sudut pasar, kami memesan dua cangkir kopi hitam. Asap tipis mengepul dari gelas, bercampur dengan aroma tembakau ketika Vian menyalakan rokoknya.

“Perjalanan masih panjang,” katanya santai.

“Santai saja. Selama ada kopi, semuanya aman,” balas saya bercanda.

Tak lama kemudian, beberapa bus besar berdatangan. Orang-orang turun dengan wajah lelah namun bahagia. Ada yang datang bersama pasangan, ada pula yang sendirian. Mereka membeli buah untuk dibawa pulang—mungkin sebagai oleh-oleh untuk keluarga tercinta.

Di tengah keramaian itu, pandangan saya tiba-tiba terhenti. Seorang gadis melangkah turun dari salah satu bus. Langkahnya pelan namun pasti. Kulitnya sawo matang bercahaya diterpa sinar matahari pagi, rambutnya keriting tergerai alami. Ia mengenakan pakaian kasual yang sederhana, namun aura percaya dirinya membuatnya tampak begitu menawan.

“Kenapa kamu diam saja?” tanya Vian menyadari saya terpaku.

Saya tersentak. “Ah… tidak apa-apa.”

Namun dalam hati saya berbisik, Ah, wanita itu begitu cantik.

Gadis itu berjalan menyusuri deretan penjual buah. Ia tersenyum pada seorang ibu pedagang, lalu memilih beberapa jeruk. Tawa kecilnya terdengar ringan, seolah menambah cerah suasana pagi itu. Entah mengapa, ada perasaan hangat yang muncul di dada saya—bukan hanya karena pesonanya, tetapi karena momen itu terasa begitu sederhana dan manusiawi.

“Kalau mau kenalan, sekarang waktunya,” goda Vian pelan.

Saya menggeleng sambil tertawa gugup. “Sudahlah, kita ini cuma musafir yang singgah sebentar.”

Tak lama, gadis itu kembali naik ke busnya. Kendaraan besar itu perlahan meninggalkan pasar, membawa dirinya pergi bersama debu yang mengepul di jalanan. Saya hanya bisa memandang hingga bayangannya hilang di tikungan.

Perjalanan kami pun berlanjut menuju Kefa. Namun sepanjang jalan, bayangan pasar pagi itu tetap teringat—kopi hangat, hiruk-pikuk pedagang, dan sosok gadis yang mungkin tak akan pernah saya temui lagi.

Di atas motor yang terus melaju, saya tersenyum sendiri.

“Kenapa senyum-senyum?” tanya Vian.

“Tidak apa-apa,” jawab saya pelan. “Kadang perjalanan bukan hanya tentang tempat yang kita tuju, tapi tentang cerita-cerita kecil yang kita temui di jalan.”

Angin kembali menyapu wajah saya. Di kejauhan, perbukitan Timor membentang seperti lukisan alam yang tak habis dipandang. Perjalanan pertama menuju Kefa itu bukan hanya perjalanan geografis, tetapi juga perjalanan rasa—tentang persahabatan, keindahan alam, dan pertemuan singkat yang meninggalkan jejak dalam ingatan.

Setelah dua puluh menit beristirahat dan menikmati kopi hangat di sudut Pasar Buah Soe, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Kefamenanu. Mesin motor kembali meraung pelan, membelah jalanan yang mulai ramai. Saya menoleh ke belakang sejenak, memandangi pasar yang perlahan menjauh dari pandangan.

Memasuki kota Soe, hati saya tak henti-hentinya memuji dalam diam. Kota kecil itu tampak indah dengan udara sejuk pegunungan yang menyentuh kulit. Rumah-rumah berjajar rapi, pepohonan berdiri anggun di tepi jalan, dan kabut tipis masih bergelayut malu-malu di perbukitan.

“Indah sekali kota ini,” gumamku pelan.

“Apa katamu?” tanya Vian sambil tetap fokus pada jalan.

“Tidak apa-apa. Cuma kagum saja. Seandainya kita bisa lebih lama di sini.”

Vian tertawa kecil. “Masih banyak tempat indah di depan, sabar saja.”

Perjalanan panjang selama kurang lebih tiga jam benar-benar menguji ketahanan tubuh. Jalanan berliku, panas matahari yang mulai menyengat, serta debu yang sesekali beterbangan membuat kami beberapa kali harus memperlambat laju motor. Namun semua itu terasa ringan karena sepanjang perjalanan kami dipenuhi canda dan cerita masa lalu.

Akhirnya, papan penunjuk arah bertuliskan Kefamenanu menyambut kami. Hati saya berdebar—perjalanan pertama ini akhirnya membawa saya tiba di kota tujuan. Kami langsung menuju ke Bundaran Sonaf Besi untuk beristirahat. Di sana berdiri megah simbol budaya yang menjadi kebanggaan masyarakat setempat. Kami duduk di pinggir bundaran, melepas helm, mengusap keringat, dan menarik napas panjang.

“Puji Tuhan, akhirnya sampai juga,” kata saya sambil meregangkan kaki.

Vian mengangguk. “Capek, tapi puas.”

Sambil duduk santai, kami menghubungi teman kami, Makun. Telepon berdering beberapa kali sebelum akhirnya diangkat.

“Bosku di mana?” tanya Vian.

Dari ujung sana terdengar suara lemah namun berusaha ceria. “Saya di rumah sakit umum, bang.”

Kami saling pandang. “Kenapa?” tanya saya cepat.

“Sakit lambung, bang… terlalu paksa minum sebelum makan,” jawabnya dengan nada sedikit malu.

Tanpa pikir panjang, kami segera menuju Rumah Sakit Umum Daerah Kefamenanu. Suasana rumah sakit terasa tenang dengan aroma khas obat-obatan yang menyengat hidung. Beberapa pasien duduk di kursi tunggu, ada yang terbaring lemah, ada pula keluarga yang setia mendampingi.

Saat memasuki ruang perawatan, kami melihat Makun duduk bersandar di tempat tidur. Di tangannya terpasang selang infus, namun wajahnya tetap menyunggingkan senyum ketika melihat kami datang.

“Eh, pahlawan-pahlawan Timor sudah tiba!” serunya pelan.

Kami tertawa mendengar sambutannya.

Saya menunjuk ke arahnya sambil berkata, “Nura, coba lihat di sana. Ternyata ada yang tumbang dan cengen ketika diperiksa perawat cantik!”

Vian langsung terbahak. “Hahahaha… laki kok tumbang begitu!”

Saya menimpali lagi, “Sejak kapan tumbang, bosku?”

Makun mengangkat bahu dengan ekspresi dramatis. “Tumbang pas malam Natal, bang. Terpaksa harus Natal di rumah sakit ini.”

 “Aduh kasihan sekali bosku. Kami Natal minum sopi kepala, dan kamu Natal minum infus ya, bang!” balasku sambil tertawa

Ruangan itu langsung dipenuhi tawa. Bahkan seorang perawat yang lewat tersenyum melihat keakraban kami. Meski Makun sedang sakit, suasana berubah hangat oleh canda dan persahabatan.

Tak lama kemudian, Mama Siska datang membawa termos dan beberapa gelas. “Ini kopi untuk kalian. Terima kasih sudah datang menjenguk,” katanya lembut.

Kami duduk melingkar di sekitar tempat tidur, menyeruput kopi buatan beliau yang terasa begitu nikmat. Di sela-sela tawa, saya menyadari betapa berharganya momen itu. Perjalanan panjang yang awalnya hanya tentang petualangan berubah menjadi pertemuan penuh makna.

Malam mulai turun perlahan. Lampu-lampu rumah sakit menyala terang, lorong-lorong menjadi lebih sunyi. Kami memutuskan untuk menginap bersama Makun agar ia tidak merasa sendiri. Vian menggelar jaket sebagai alas, saya bersandar di kursi, sementara saya duduk di dekat jendela, memandangi langit malam Kefa yang tenang.

Di luar, angin malam berhembus lembut. Di dalam ruangan kecil itu, kami belajar bahwa perjalanan bukan hanya tentang jarak yang ditempuh, tetapi tentang kebersamaan yang menguatkan. Tawa, kopi hangat, dan persahabatan membuat malam di rumah sakit itu terasa hangat—bahkan lebih hangat dari perayaan Natal yang terlewatkan.

Keesokan paginya, tepat pukul 06.00, saya sudah bersiap melanjutkan perjalanan menuju Malaka. Udara pagi di Kefamenanu masih terasa dingin ketika saya menyalakan motor. Tidak ada teman seperjalanan kali ini—hanya saya, motor, dan suara penunjuk arah dari Google Maps yang setia memandu.

Awalnya saya yakin perjalanan akan lancar. Jalanan terlihat cukup baik, meski sesekali berlubang. “Ah, sepertinya ini jalur yang aman,” pikirku optimis. Namun keyakinan itu perlahan memudar ketika aspal berubah menjadi jalan tanah berbatu. Pepohonan semakin rapat, rumah-rumah penduduk semakin jarang terlihat. Saya mulai merasa tidak tenang.

Tiba-tiba terdengar bunyi keras dari bawah motor.

“Krakk!”

Motor oleng dan berhenti mendadak. Saya turun dengan jantung berdebar. Rantai motor putus.

Saya terdiam beberapa saat. Di sekitar saya hanya hutan sunyi dan jalan sepi. Angin berhembus pelan, tapi justru membuat suasana terasa semakin mencekam. Tidak ada sinyal yang stabil, tidak ada kendaraan lewat.

“Ya Tuhan… jangan sampai saya terjebak di sini,” bisik saya pelan.

Rasa takut mulai merayap. Pikiran buruk bermunculan. Namun saya sadar, satu-satunya pilihan adalah bergerak. Saya pun mendorong motor perlahan ke depan. Jalanan berbatu membuat langkah terasa berat, keringat mulai mengucur, napas tersengal-sengal. Dalam hati saya terus berdoa agar ada pertolongan.

Sekitar beberapa ratus meter kemudian, saya melihat atap rumah di kejauhan. Sebuah kampung kecil tersembunyi di balik pepohonan. Hati saya langsung dipenuhi rasa syukur.

Sesampainya di kampung itu, saya menyapa beberapa bapak yang sedang duduk di bawah pohon.

“Permisi bapak, di sekitar sini ada bengkel motor kah?” tanya saya dengan nada penuh harap.

Salah satu dari mereka tersenyum ramah. “Ada, tapi sederhana saja. Kita coba lihat dulu motornya.”

Beberapa orang langsung berdiri dan membantu mendorong motor saya ke sebuah rumah yang memiliki peralatan seadanya. Mereka memeriksa rantai yang putus, mencoba menyambungkannya kembali. Tangan mereka kotor oleh oli, tapi wajah mereka tetap bersahabat. 

“Sabar, nak. Kita usahakan bisa jalan lagi,” kata seorang bapak tua.

Dalam hati saya benar-benar terharu. Di tempat yang jauh dari keramaian, di tengah hutan terpencil, saya justru menemukan pertolongan. Saya menunduk dan berdoa singkat, mengucap syukur karena Tuhan menggerakkan hati orang-orang ini untuk membantu saya.

Empat jam saya berada di kampung itu. Kami sempat berbincang, tertawa kecil, bahkan saya diberi segelas air kopi sederhana. Akhirnya rantai motor berhasil diperbaiki sementara.

“Pelan-pelan saja jalannya,” pesan mereka ketika saya hendak pamit.

Saya mengangguk. “Terima kasih banyak, bapak-bapak. Tuhan balas semua kebaikan ini.”

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Beberapa kampung kecil saya lewati hingga akhirnya saya tiba di sebuah kali besar. Airnya mengalir deras, batu-batu besar tersebar di tengah arus. Tidak ada jembatan.

Saya berhenti di tepi kali, menelan ludah. “Bagaimana ini?” gumamku.

Rasa takut kembali datang. Saya membayangkan motor terseret arus, atau saya terjatuh dan terjebak di tengah air. Namun tak lama kemudian dua orang pria datang dari arah belakang.

“Mau lewat, kaka?” tanya salah satu dari mereka.

“Iya… tapi saya takut juga,” jawab saya jujur.

“Kita bantu saja. Pelan-pelan.”

Mereka memegang bagian depan dan belakang motor, memandu saya melewati arus yang cukup kuat. Air membasahi kaki hingga lutut, arus sempat membuat saya goyah. Hampir satu jam kami berjuang menyeberang dengan hati-hati.

Ketika akhirnya sampai di seberang, saya menarik napas panjang. “Terima kasih banyak, kaka.”

Mereka hanya tersenyum. “Hati-hati di jalan.”

Sekali lagi saya merasa Tuhan hadir lewat tangan-tangan sederhana itu. Rasa takut yang tadi mencekam berubah menjadi keberanian. Saya menyalakan motor dan melanjutkan perjalanan dengan hati yang lebih kuat.

Tak lama kemudian, saya tiba di rumah Bruder Damianus. Ia sedang mengecat tembok rumah ketika saya datang. Cat putih menempel di tangannya, wajahnya berkeringat namun berseri.

“Eh, sudah sampai juga!” katanya sambil tertawa kecil.

Di halaman rumah, beberapa orang sedang menggali tanah untuk membuat kubur. Suasana kerja terasa serius namun penuh kebersamaan. Saya beristirahat sebentar, minum air, lalu tanpa diminta langsung ikut membantu mengecat tembok bersama mereka.

Keesokan harinya saya kembali melanjutkan pekerjaan mengecat bersama seorang kaka di kampung itu. Namanya saya sudah lupa, tapi wajahnya ramah.

“Bro asal mana?” tanyanya sambil menggerakkan kuas.

“Dari Lembata, bang,” jawab saya.

Suasana sempat hening. Lalu saya membuka obrolan lagi.

“Bang pernah ke Malaysia ya?”

“Iya pernah.”

“Kerja apa di sana bang?”

“Bawa lori, kelapa sawit… ada juga kerja lain,” jawabnya santai.

Saya tersenyum dan ikut menyambung cerita. “Oww saya juga pernah di Malaysia, tapi cuma enam bulan bang.”

“Kerja apa di sana bro?” tanyanya lagi.

Saya menahan tawa. “Saya kerja kandang ayam bang.”

Ia tertawa keras. Saya pun ikut tertawa dalam hati, karena sebenarnya cerita itu hanya tipuan kecil agar percakapan kami tetap hidup. Tapi justru dari percakapan sederhana itu kami menjadi akrab.

Sore harinya, banyak orang berdatangan untuk mengikuti perayaan Ekaristi di rumah Bruder Damianus. Rumah itu penuh dengan umat yang duduk rapi, bernyanyi dengan khidmat. Suasana hening dan penuh doa menyelimuti kami semua.

Setelah perayaan selesai, sebagian orang pulang. Namun sebagian lainnya tetap tinggal, duduk melingkar menikmati minuman tradisional—habok dan laru putih. Tawa pecah di antara cerita-cerita tentang kehidupan, pengalaman merantau, hingga kisah masa kecil.

Malam itu terasa hangat. Bintang-bintang bersinar terang di langit Malaka, seakan ikut merayakan kebersamaan kami. Saya duduk diam sejenak, memandangi wajah-wajah sederhana yang penuh kebaikan.

Dalam perjalanan ini, saya belajar satu hal: di tengah ketakutan, di jalan rusak, di kali yang deras, Tuhan selalu menyediakan pertolongan lewat orang-orang yang tak terduga. Dan di setiap pertemuan sederhana, ada cerita yang memperkaya jiwa.

Malam itu saya tertidur dengan hati yang penuh syukur—karena perjalanan ini bukan hanya tentang sampai di tujuan, tetapi tentang iman, persaudaraan, dan kegembiraan yang lahir dari kebersamaan.

Keesokan harinya, sekitar pukul sebelas siang, matahari sudah berdiri cukup tinggi di langit Malaka. Udara terasa hangat, namun hati saya justru dipenuhi rasa haru karena harus berpamitan dengan orang-orang yang beberapa hari ini menjadi keluarga kecil bagi saya.

“Saya pamit dulu, Bruder… kaka-kaka semua. Terima kasih untuk semuanya,” ucap saya sambil menyalami satu per satu.

Bruder Damianus menepuk bahu saya. “Hati-hati di jalan. Jangan terlalu percaya Google Maps kalau sudah masuk kampung,” katanya sambil tersenyum.

Saya tertawa kecil. “Siap, Bruder. Semoga kali ini tidak masuk hutan lagi.”

Motor kembali saya nyalakan. Lagi dan lagi, saya harus mengandalkan Google Maps sebagai penunjuk arah. Perjalanan kali ini menuju Atambua, tepatnya ke Kampung Mandeu. Jalanan berkelok, sesekali menanjak dan menurun tajam. Rumah-rumah warga berdiri sederhana di pinggir jalan, anak-anak kecil melambaikan tangan ketika saya lewat.

Sepanjang perjalanan saya lebih waspada. Pengalaman rantai motor putus dan terjebak di kali deras masih segar di ingatan. Setiap kali jalan berubah menjadi tanah berbatu, jantung saya sedikit berdegup lebih cepat.

“Semoga tidak ada kejutan lagi hari ini,” gumamku.

Akhirnya saya tiba di Kampung Mandeu. Suasana kampung terasa tenang dan asri. Pepohonan kelapa berjajar tinggi, angin berhembus lembut membawa aroma tanah dan dedaunan kering.

Bruder Melky sudah menunggu di depan rumah. Ia menyambut saya dengan senyum lebar.

“Eh, sudah sampai! Capek pasti?” katanya ramah.

“Lumayan, Bruder. Tapi masih kuat,” jawab saya sambil melepas helm.

Tak lama kemudian ia menyiapkan kopi. Kami duduk di teras rumah, menikmati secangkir kopi hangat yang sederhana namun terasa istimewa karena diminum dalam kebersamaan. Kami berbincang tentang perjalanan saya, tentang jalan rusak, tentang kali yang deras, dan tentang orang-orang baik yang saya temui.

“Tuhan selalu kirim orang di saat yang tepat,” kata Bruder Melky pelan.

Saya mengangguk setuju. “Saya merasakannya sendiri, Bruder.”

Setelah kopi habis, Bruder Melky mengajak saya pergi ke kebun untuk memetik kelapa. Kami berjalan menyusuri jalan setapak kecil, melewati semak dan rerumputan liar. Tak lama kemudian, hamparan kebun kelapa terbentang luas di hadapan kami.

Saya terpukau melihat Bruder Melky memanjat pohon kelapa dengan lincah dan gesit. Tangannya cekatan memeluk batang pohon, kakinya mengunci kuat, perlahan ia naik semakin tinggi.

“Bruder hati-hati!” teriak saya dari bawah.

“Iya, santai saja!” jawabnya dari atas dengan nada tenang.

Beberapa buah kelapa muda dilempar turun satu per satu. Bunyi “duk!” terdengar ketika kelapa jatuh menyentuh tanah. Saya segera mengumpulkannya. Setelah itu, dengan parang kecil, Bruder membuka bagian atas kelapa dan menyerahkannya kepada saya.

“Minum dulu, biar segar.”

Saya meneguk air kelapa muda itu. Rasanya dingin, manis alami, dan menyegarkan tenggorokan yang sejak tadi kering karena panas. Kami duduk di bawah pohon kelapa, menikmati air kelapa dengan penuh kepuasan.

“Ini lebih enak dari minuman mahal,” kata saya sambil tertawa.

Bruder Melky ikut tertawa. “Inilah berkat alam.”

Beberapa jam kami habiskan di Mandeu—bercerita, bekerja ringan, dan menikmati suasana kampung yang damai. Tidak ada kebisingan kendaraan, tidak ada hiruk pikuk kota, hanya suara angin dan daun yang saling bergesekan.

Namun sore mulai mendekat. Saya tahu perjalanan belum selesai. Saya memutuskan untuk kembali ke Kefamenanu sebelum hari gelap.

“Saya harus jalan sekarang, Bruder,” kata saya pelan.

Bruder Melky mengangguk. “Hati-hati. Semoga perjalananmu lancar.”

Saya menyalakan motor dan melambaikan tangan. Saat meninggalkan Kampung Mandeu, hati saya terasa penuh. Setiap tempat yang saya singgahi memberi pengalaman berbeda—ketakutan di hutan, pertolongan di kampung, tawa di rumah sakit, kerja bersama di Malaka, dan kesederhanaan di kebun kelapa.

Di atas motor yang kembali melaju di jalanan Timor, saya tersenyum sendiri. Perjalanan ini bukan hanya tentang berpindah dari satu kota ke kota lain, tetapi tentang belajar percaya, bersyukur, dan menemukan makna dalam setiap langkah yang saya tempuh.

Pukul empat sore saya pamit dari Kampung Mandeu dan kembali menyalakan motor menuju Kefamenanu. Matahari mulai condong ke barat, cahayanya berwarna keemasan, menyapu hamparan sawah di pinggir jalan. Padi-padi muda bergoyang tertiup angin, memantulkan cahaya senja seperti gelombang kecil yang berkilau.

Saya memperlambat laju motor sejenak, menikmati pemandangan itu. Langit luas tanpa batas, burung-burung kembali ke sarang, dan udara sore terasa hangat namun damai. Dalam hati saya berkata, Indah sekali tanah Timor ini…

Perjalanan terasa lebih ringan dibanding hari-hari sebelumnya. Tidak ada rantai putus, tidak ada kali deras yang menghadang. Hanya jalan panjang yang mengantar saya kembali ke kota. Ketika lampu-lampu mulai menyala, saya pun tiba di Kefa.

Di tepi jalan, saya berhenti sebentar dan kembali membuka Google Maps untuk mencari titik Desa Oeolo. Titik biru kecil di layar menunjukkan posisi saya bergerak perlahan menuju arah yang dituju. Saya mengikuti petunjuk itu, melewati beberapa desa yang tenang. Anak-anak masih bermain di halaman rumah, ibu-ibu duduk bercerita di teras, dan suara anjing sesekali menggonggong menyambut kendaraan yang lewat.

Akhirnya saya tiba di rumah Makun di Desa Oeolo. Begitu saya turun dari motor, keluarga Makun menyambut dengan hangat.

“Eh, sudah sampai!” seru salah satu dari mereka.

Makun yang sudah terlihat jauh lebih sehat langsung tersenyum lebar. “Perjalanan aman, bang?”

“Aman… kali ini Google Maps tidak tipu saya,” jawab saya sambil tertawa.

Kami masuk ke rumah dan disuguhi makan malam sederhana namun penuh rasa kekeluargaan. Nasi hangat, sayur, dan lauk yang dimasak dengan penuh perhatian terasa begitu nikmat setelah perjalanan panjang. Saya duduk bersama mereka di ruang tamu, berbagi cerita tentang perjalanan saya dari Malaka hingga kembali ke Kefa.

Malam semakin larut. Kak Eman, kemudian mengeluarkan sebotol arak dan meletakkannya di tengah meja.

“Ini untuk tunggu jam dua belas! Pergantian tahun harus meriah!” katanya bersemangat.

Botol dibuka, gelas-gelas kecil dibagikan. Musik dinyalakan, dan suasana rumah berubah riuh oleh tawa serta suara karaoke yang kadang fals namun penuh semangat. Lagu-lagu lama dan baru bergantian dinyanyikan. Ada yang berdiri sambil berjoget kecil, ada yang hanya duduk sambil ikut bersenandung.

“Bro, satu lagu lagi!” teriak Makun sambil memegang mikrofon.

Saya tertawa, namun tubuh mulai terasa berat. Kepala sedikit pusing, badan terasa kurang enak—mungkin karena kelelahan setelah perjalanan panjang beberapa hari terakhir.

“Sepertinya saya tidur dulu,” kata saya pelan kepada mereka.

“Baru mulai ini!” sahut Kak Eman.

“Tidak apa-apa, lanjut saja. Saya cuma istirahat sedikit.”

Saya masuk ke kamar dan merebahkan diri. Dari luar masih terdengar suara tawa, dentingan gelas, dan nyanyian yang sesekali pecah oleh sorakan. Jam perlahan mendekati pukul 00.00. Saya menutup mata, tubuh benar-benar menyerah pada rasa lelah.

Malam itu mungkin malam yang memang ditakdirkan bagi saya untuk menutup tahun 2025 dalam diam dan mimpi. Sementara yang lain menyambut tahun baru dengan suara riuh dan gelak tawa, saya justru terlelap dalam keheningan.

Namun di dalam hati, sebelum benar-benar tertidur, saya sempat berbisik, “Terima kasih Tuhan untuk perjalanan ini… untuk setiap ketakutan, pertolongan, tawa, dan persahabatan.”

Dan tepat ketika kembang api mungkin mulai meledak di langit Kefa, saya sudah berada di dunia mimpi—menutup satu tahun penuh cerita, dan membuka tahun baru dengan harapan yang tenang.

Tanggal 1 Januari 2026 pagi itu terasa berbeda. Udara masih menyimpan sisa-sisa euforia pergantian tahun, meski malam sebelumnya saya lebih banyak menghabiskannya dalam tidur. Sekitar pukul sembilan pagi, saya, Nura, Makun, dan Kak Eman bersiap menuju Benpasi untuk mengucapkan salam Natal dan Tahun Baru kepada keluarga mereka.

Perjalanan menuju Benpasi terasa hangat oleh canda. Jalanan kampung masih lengang, beberapa orang tampak duduk santai di depan rumah, anak-anak berlarian sambil memegang petasan sisa malam tahun baru.

“Siap mental belum untuk sopi hari ini?” goda Kak Eman sambil tertawa.

Saya menggeleng. “Kemarin saja saya sudah KO sebelum jam dua belas.”

Makun menepuk bahu saya. “Hari ini tidak boleh kabur!”

Sesampainya di rumah keluarga mereka, kami disambut dengan pelukan dan senyum lebar. Suasana penuh keakraban. Ucapan “Selamat Natal dan Tahun Baru!” bersahutan di antara kami. Tidak lama kemudian kami dipersilakan duduk dan makan bersama. Hidangan sederhana tersaji di atas meja—nasi hangat, daging, sayur, dan sambal khas kampung yang pedasnya menggigit namun nikmat.

Setelah makan, Bapa Lambert muncul dengan senyum misterius sambil membawa botol sopi kepala racikannya sendiri.

“Ini khusus Tahun Baru,” katanya bangga.

Gelas-gelas kecil dibagikan. Sopi kepala itu terasa hangat di tenggorokan, kuat namun halus. Satu botol pun akhirnya habis tanpa terasa, diiringi tawa dan cerita-cerita lama yang kembali diangkat ke permukaan.

Belum selesai sampai di situ, Bapa Lambert lalu mengeluarkan tiga buah speaker besar dan menyusunnya di ruang tamu. Musik langsung menggelegar memenuhi rumah. Lagu kesukaannya diputar keras-keras—Y Que Fue dari Don Miguelo.

“Ini lagu wajib!” serunya sambil tertawa.

Kami semua tertawa. Karaoke pun dimulai. Satu per satu memegang mikrofon, bernyanyi dengan penuh semangat walau kadang nada tak tepat. Rumah itu berubah menjadi panggung kecil penuh kegembiraan.

Di tengah riuhnya musik dan tawa, pandangan saya tiba-tiba tertuju pada seorang wanita berbaju hijau yang berdiri tak jauh dari saya. Senyumnya lembut, matanya berbinar, dan caranya tertawa membuat suasana terasa lebih hidup. Entah mengapa, jantung saya berdetak lebih cepat ketika ia mendekat untuk mengambil mikrofon.

“Nyanyi sama-sama?” tanyanya ringan.

Saya sempat terdiam sepersekian detik. “Boleh… tapi kalau fals jangan marah,” jawab saya mencoba bercanda.

Kami pun bernyanyi bersama. Suara musik mengalun, dan untuk beberapa menit saya lupa pada segala hal—perjalanan panjang, rasa lelah, bahkan suara orang-orang di sekitar. Yang ada hanya lagu, tawa, dan jarak yang semakin dekat.

Beberapa kali tangan kami hampir bersentuhan saat bergantian memegang mikrofon. Saya bisa merasakan degup jantung sendiri semakin kencang. Dalam hati saya berkata, Kenapa setiap perjalanan selalu ada cerita tentang seorang perempuan?

Sore perlahan tiba. Cahaya matahari mulai meredup, dan suasana pun perlahan tenang. Setelah berpamitan dan kembali mengucapkan salam Tahun Baru, kami memutuskan untuk pulang ke Desa Oeolo.

Di perjalanan pulang, Nura menggoda saya, “Tadi yang baju hijau itu siapa?”

Saya pura-pura tidak peduli. “Ah, biasa saja.”

Makun tertawa keras. “Biasa tapi dari tadi senyum sendiri!”

Saya hanya tersenyum dan memandangi jalan di depan. Kadang pertemuan singkat saja sudah cukup untuk meninggalkan kesan yang sulit dijelaskan.

Malam itu kami tiba kembali di Desa Oeolo dan langsung beristirahat. Tubuh terasa lelah, namun hati terasa penuh. Tahun baru dimulai dengan kebersamaan, tawa, musik, dan mungkin… sedikit getaran rasa yang tak terduga.

Dalam keheningan sebelum tidur, saya tersenyum kecil. Perjalanan ini belum selesai—dan sepertinya tahun 2026 sudah membuka lembaran pertamanya dengan cara yang begitu manis.

Pagi pun tiba dengan cahaya lembut yang menyelinap masuk melalui jendela rumah di Desa Oeolo. Udara masih segar, dan suasana terasa hening setelah beberapa hari penuh tawa dan perayaan. Kami bangun lebih awal, bersiap-siap untuk pergi ke pemakaman umum di Kefamenanu guna membakar lilin dan mendoakan arwah keluarga.

Perjalanan menuju kuburan umum Kefa terasa tenang. Setibanya di sana, saya terdiam sejenak. Dari atas pemakaman itu, pemandangan terbentang luas—perbukitan hijau, langit biru tanpa batas, dan angin yang berhembus lembut seakan membawa doa-doa ke langit. Dalam hati saya berkata, Tempat ini seperti surga yang tak kelihatan… tenang, damai, dan penuh harapan.

Kami menyalakan lilin satu per satu. Api kecil itu menyala pelan, seakan menjadi simbol cinta yang tak pernah padam bagi mereka yang telah lebih dahulu pergi. Saya menundukkan kepala, berdoa dalam hening. Di antara batu nisan dan rerumputan liar, saya merasakan kedamaian yang sulit dijelaskan.

Sore harinya kami kembali ke Oeolo. Namun perjalanan hari itu belum selesai. Saya bersama Kak Eman bersiap menuju Desa Manusasi untuk menghadiri pesta pelajar. Perjalanan terasa cukup jauh dan melelahkan. Jalanan berdebu, tanjakan panjang, serta tikungan yang berliku membuat tubuh terasa pegal. Tetapi setiap kali mata memandang hamparan alam Timor yang luas dan indah, rasa lelah itu seperti menguap begitu saja.

“Capek?” tanya Kak Eman.

“Capek sedikit, tapi pemandangannya obat,” jawab saya sambil tersenyum.

Akhirnya kami tiba di depan aula Kantor Desa Manusasi. Kami disambut dengan ramah oleh panitia dan para pemuda setempat. Suasana sudah ramai—lampu-lampu dipasang di sekitar aula, kursi-kursi tersusun rapi, dan suara musik terdengar mengalun dari pengeras suara.

Sambutan demi sambutan disampaikan. Beberapa tokoh desa memberi pesan kepada para pelajar agar tetap semangat belajar dan menjaga persatuan. Setelah sesi resmi selesai, tibalah acara bebas yang paling ditunggu-tunggu.

Operator musik langsung memutar lagu tebe. Irama khas itu membuat banyak anak muda dan orang tua maju ke depan untuk menari bersama. Tarian tebe menggambarkan kebersamaan dan kekuatan persaudaraan. Lingkaran penari terbentuk, langkah kaki menghentak tanah mengikuti irama, suara sorak dan tawa menyatu dalam malam yang hangat.

Di sudut lain, beberapa orang duduk santai sambil memegang gelas dan botol sopi—minuman khas yang hampir selalu hadir dalam perayaan kampung. Saya pun ikut menikmati satu dua gelas. Awalnya terasa hangat dan ringan, namun tak lama kepala mulai terasa pusing.

“Sudah cukup,” kata saya pada diri sendiri.

Saya memutuskan berhenti minum dan ingin bergabung menari. Namun ketika hendak maju, operator justru memutar lagu kizomba. Musik berubah menjadi lebih pelan dan sensual. Pasangan-pasangan mulai berdansa dengan gerakan lembut dan penuh irama.

Saya terpaksa kembali duduk, memperhatikan mereka. Anak-anak muda menari kizomba dengan begitu luwes. Pinggul mereka bergerak lentur mengikuti musik, langkah kaki teratur, dan ekspresi wajah penuh percaya diri. Saya hanya bisa tersenyum, kagum melihat kelincahan mereka.

“Belum rezeki kamu,” goda Kak Eman sambil tertawa kecil.

Saya menunggu dengan sabar. Setelah beberapa lagu kizomba, akhirnya terdengar irama yang lebih energik—lagu yang membuat kaki saya otomatis ingin bergerak. Tanpa ragu saya maju ke tengah kerumunan dan mulai berjoget bersama yang lain. Tawa, sorakan, dan tepukan tangan mengiringi setiap gerakan.

Acara berlangsung hingga dini hari. Musik silih berganti, kadang cepat, kadang pelan. Malam terasa panjang namun menyenangkan. Ketika langit mulai menunjukkan tanda-tanda fajar, kami akhirnya pamit.

Perjalanan kembali ke Desa Oeolo terasa sunyi. Tubuh lelah, mata mengantuk, namun hati terasa puas. Setibanya di rumah, saya langsung merebahkan diri.

Dalam kelelahan itu, saya menyadari bahwa perjalanan liburan ini bukan hanya tentang tempat-tempat yang saya datangi, tetapi tentang pengalaman, budaya, doa, tarian, dan kebersamaan yang saya rasakan. Dan malam itu, sebelum terlelap, saya tersenyum kecil—bersyukur telah menjadi bagian dari setiap cerita yang indah itu.

Beberapa jam setelah kami pulang dari pesta pelajar di Manusasi, saya masih terlelap dalam tidur yang berat. Tubuh terasa remuk, kepala sedikit pening karena kurang istirahat. Tiba-tiba terdengar suara memanggil nama saya berkali-kali.

“tores! Bangun !”

Saya menggerutu pelan, setengah kesal karena waktu istirahat terasa begitu singkat. Dengan mata masih berat, saya bangkit dari tempat tidur. Ternyata Nura dan Makun sudah rapi sekali—pakaiannya bersih, rambut disisir, wangi minyak rambut tercium dari jauh.

“Kalian mau ke mana pagi-pagi begini?” tanya saya dengan nada setengah malas.

Makun tersenyum lebar. “Siap-siap, kita pesiar ke pasar!”

Saya memandang mereka curiga. “Pesiar atau jemput kekasih maitua?”

Nura tertawa keras. “Sudah tahu masih tanya!”

Walau masih mengantuk, saya akhirnya ikut bersiap. Tak lama kemudian kami bertiga berangkat. Dalam perjalanan, kami singgah menjemput teman kami, Yolan Nahak—gadis bocil yang sering bercanda dengan gaya seperti laki-laki.

“Eh, pangeran kampung sudah datang!” teriak Yolan sambil pura-pura gagah.

“Cepat naik, jangan banyak gaya,” balas Makun.

Kami pun melaju menuju pasar. Setibanya di pasar, suasananya ramai sekali. Para pedagang menjajakan sayur, ikan, pakaian, hingga peralatan rumah tangga. Aroma khas pasar bercampur antara bau ikan, rempah, dan tanah basah. Anehnya, kami masuk ke dalam pasar dengan sikap cengeng seperti anak kecil yang dulu sering diajak orang tua ke pasar untuk dibelikan tas atau mainan.

“Bang, beli saya topi ini!” goda Nura sambil menunjuk barang dagangan.

“Uangnya mana?” jawab saya sambil tertawa.

Di pinggir pasar terdapat pos perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste. Kami berhenti sejenak di sana untuk mengambil foto kenangan. Rasanya unik berdiri di wilayah yang begitu dekat dengan dua negara, seolah hanya beberapa langkah saja sudah berbeda tanah.

Setelah dari pasar, kami memilih singgah di rumah Yolan Nono untuk memetik kelapa muda. Di halaman rumah itu berdiri beberapa pohon kelapa tinggi menjulang.

Saya, Makun, dan Nura saling pandang.

“Siapa yang panjat?” tanya Nura menantang.

“Saya sih bisa, tapi hari ini lagi malas,” jawab saya sambil pura-pura serius.

Akhirnya Makun mengalah. “Sudah, saya saja.”

Ia memanjat pohon kelapa di samping rumah dengan lincah. Gerakannya cepat dan gesit, seperti naga terbang dalam cerita-cerita lama. Beberapa buah kelapa dijatuhkan satu per satu.

“Woy, hati-hati jatuh!” teriak saya.

Kami tertawa sambil memujinya. “Hebat sekali si naga Oeolo!”

Setelah kelapa dibelah, kami menikmati air kelapa muda yang segar. Rasa manis alaminya menyegarkan tenggorokan dan menghapus sisa kantuk.

Belum puas, kami memutuskan pergi pesiar ke perbatasan Indonesia dan Timor Leste di Napan. Pemandangan di sana begitu indah—bukit-bukit hijau membentang luas, pagar perbatasan berdiri tenang, dan angin berhembus lembut. Saya memandang jauh ke arah garis batas itu dan dalam hati berkata, Tempat ini seperti gadis cantik yang berdarah dua negara—berbeda, namun tetap satu dalam keindahan.

Kami mengambil banyak foto, tertawa, dan menikmati suasana hingga tak terasa waktu berlalu.

Menjelang sore kami kembali ke Desa Oeolo. Setibanya di rumah, kami disambut dengan aroma kopi panas buatan Kak Eman yang baru saja bangun dari tidur panjang akibat kelelahan setelah pesta pelajar di Manusasi.

“Kopi dulu biar kuat cerita lagi,” katanya sambil menyodorkan gelas.

Kami duduk melingkar, menyeruput kopi hangat, membahas kejadian hari itu—tentang pasar, tentang Makun si naga kelapa, tentang perbatasan yang indah.

Malam pun semakin larut. Tubuh kembali terasa lelah, namun hati penuh dengan kenangan baru. Hari itu terasa seperti petualangan kecil yang padat dan lucu. Akhirnya kami memilih beristirahat, membiarkan malam Oeolo menyelimuti kami dalam keheningan.

Dalam gelap sebelum tidur, saya tersenyum kecil. Liburan ini seakan tak pernah kehabisan cerita—selalu ada tawa, selalu ada perjalanan, dan selalu ada persahabatan yang menguatkan.

Keesokan paginya saya terbangun dengan perasaan yang berbeda. Tidak ada agenda pesta, tidak ada rencana pesiar. Hari itu saya harus kembali ke Kupang. Ada tanggung jawab yang menunggu, ada keadaan tertentu yang memaksa saya pulang lebih cepat dari yang hati inginkan.

Saya berdiri di teras rumah di Desa Oeolo, memandangi halaman yang beberapa hari terakhir menjadi saksi tawa dan cerita kami. Dalam hati kecil, saya ingin tinggal sedikit lebih lama. Namun perjalanan memang selalu tentang datang dan pergi.

Saya berpamitan satu per satu.

“Mama Siska, terima kasih banyak untuk semuanya,” ucap saya sambil menyalami beliau.

“Iya nak, hati-hati di jalan. Jangan ngebut,” jawabnya lembut.

Makun memeluk saya erat. “Kalau sudah sampai Kupang, kabar ya.”

Kak Eman menepuk bahu saya. “Jangan lupa cerita lagi kalau ada petualangan baru.”

Saya tersenyum. “Pasti.”

Motor dinyalakan. Suara mesin kembali menjadi teman setia. Dari Kefamenanu menuju Kupang, jalan terasa panjang namun penuh kenangan. Setiap tikungan seakan menyimpan potongan cerita—tentang rumah sakit, tentang kelapa muda, tentang perbatasan, tentang pesta dan tawa.

Di tengah perjalanan, saya kembali singgah di Pasar Buah Soe—tempat yang menjadi titik istirahat pertama saat berangkat dulu. Rasanya seperti mengulang awal perjalanan, namun kali ini dengan hati yang lebih penuh.

Saya duduk di warung kecil, memesan secangkir kopi hitam. Asap tipis mengepul di udara yang sejuk. Saya menyalakan sebatang rokok dan memandang lalu lalang orang-orang di pasar.

Di sini perjalanan ini pernah dimulai… dan kini hampir selesai, pikir saya.

Kopi terasa lebih dalam, mungkin karena bercampur rasa haru. Setelah beberapa menit menikmati suasana, saya kembali mengenakan helm dan melanjutkan perjalanan.

Langit yang tadi cerah perlahan berubah kelabu ketika saya memasuki wilayah antara Takari dan Camplong. Angin mulai kencang. Tak lama kemudian, hujan turun deras tanpa peringatan.

Tetesannya tajam menghantam wajah dan jaket saya. Dalam hitungan menit, pakaian saya basah kuyup. Jalanan menjadi licin, jarak pandang berkurang.

Saya sempat berpikir untuk berteduh. Namun entah kenapa, ada dorongan kuat untuk terus melaju.

“Sedikit lagi… sedikit lagi sampai,” gumamku sambil menarik gas motor.

Hujan semakin deras, tapi saya terus melaju. Air mengalir di wajah, bercampur antara hujan dan keringat. Tubuh menggigil, tetapi hati terasa hangat oleh kenangan beberapa hari terakhir.

Akhirnya, setelah perjalanan panjang itu, saya tiba di Kupang dalam keadaan basah kuyup. Motor berhenti, dan saya menarik napas panjang.

Perjalanan dari Kefa ke Kupang bukan hanya perjalanan fisik. Itu adalah perjalanan yang membawa saya melewati ketakutan, pertolongan, persahabatan, tawa, cinta yang sekilas, dan rasa syukur yang dalam.

Saya berdiri di bawah sisa rintik hujan, tersenyum kecil.

Liburan itu telah selesai, tetapi cerita-ceritanya akan selalu tinggal dalam hati saya—seperti jejak roda di jalan Timor yang mungkin akan hilang oleh hujan, namun tak pernah hilang dari ingatan.

Setibanya di kos di Kupang, saya membuka pintu kamar kecil itu dengan tubuh yang masih terasa lelah. Suasana begitu sunyi. Tidak ada suara tawa, tidak ada musik karaoke, tidak ada panggilan nama saya dari luar kamar. Hanya bunyi kipas angin yang berputar pelan dan dinding-dinding yang seakan ikut diam.

Saya duduk di tepi tempat tidur, melepas jaket yang masih sedikit lembap oleh sisa hujan perjalanan tadi. Dalam kesunyian itu, ingatan mulai berputar seperti film yang diputar ulang—perjalanan menuju Kefamenanu, kopi di Pasar Buah Soe, tawa di rumah sakit, kelapa muda di Mandeu, perbatasan indah di Napan, pesta pelajar di Manusasi, dan malam tahun baru yang saya tutup dalam mimpi.

Perjalanan liburan Natal dan tutup tahun itu memang sangat menyenangkan. Ada kebahagiaan yang sederhana—kopi panas, sopi yang menghangatkan, lagu yang dinyanyikan bersama, dan tarian yang mempersatukan. Tetapi ada juga ketakutan—rantai motor yang putus di hutan, kali deras yang hampir membuat saya ragu, hujan yang membasahi perjalanan pulang.

Semua itu terasa begitu nyata.

Di kamar kecil yang sepi itu, saya menyadari bahwa justru campuran antara bahagia dan takut itulah yang membuat perjalanan ini bermakna. Tanpa ketakutan, saya mungkin tidak akan merasakan betapa berharganya pertolongan. Tanpa jarak, saya mungkin tidak akan mengerti arti kebersamaan.

Saya menarik napas panjang.

Dalam hati saya berkata, Saya ingin kembali lagi. Ingin merayakan Natal dan tutup tahun di sana lagi. Ingin duduk bersama mereka, tertawa tanpa beban, dan merasakan hangatnya persaudaraan itu.

Perjalanan boleh selesai, tetapi kerinduan sudah mulai tumbuh.

Saya tersenyum kecil sambil menatap langit-langit kamar.

Terima kasih untuk Bruder Damianus, Bruder Melky, Mama Siska, Makun, Kak Eman, Nura, untuk semua keluarga dan teman yang sudah menampung saya di hari-hari libur itu. Terima kasih untuk setiap tawa, setiap bantuan, setiap doa.

Dan sebelum memejamkan mata malam itu, saya berbisik pelan:

“Tuhan menjaga kita semua.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Doa Menjadi Sunyi

Luka Menjadi Cermin Sekaligus Hukuman