Ketika Doa Menjadi Sunyi

 

Aku pergi bukan karena panggilan itu mati, melainkan karena ia terus dipaksa berteriak di tempat yang menolak mendengar. Pukul 16.00, langit telah menggelap perlahan, dan lonceng doa malam barusaja mulai. Dentangnya menggema seperti perintah—tepat waktu, tepat nada, namun tak pernah menanyakan keadaan jiwa yang mendengarnya. Lampu-lampu di lorong biara menyala redup, memantulkan bayangan panjang di dinding yang dingin.

Di kamar kecilku, cahaya kekuningan dari lampu meja menyentuh salib kayu yang tergantung miring. Aku menatapnya lama. Dahulu, salib itu menjadi tempat aku menggantungkan harapanku. Kini, ia menjadi saksi betapa sering aku menggantungkan diriku sendiri—antara taat dan hancur.

 Ia menyebut kekerasan sebagai pembentukan. Suaranya keras, langkahnya pasti, dan keputusannya tidak pernah keliru—setidaknya di hadapan komunitas. Ia mengajarkan bahwa kehendak pribadi adalah musuh, bahwa diam adalah bentuk iman tertinggi. Namun setiap kata yang jatuh dari bibirnya meninggalkan bekas. Ia tidak mendidik jiwa, ia menaklukkannya. Aku belajar menelan perasaan. Belajar tersenyum saat disalahkan. Belajar menyebut luka sebagai rahmat.

Di ruang pertemuan, kritik dibungkus dengan ayat-ayat Kitab Suci, dan hukuman diberi nama pembinaan. Tak ada ruang untuk bertanya, sebab pertanyaan dianggap benih pembangkangan.

 Di kapel, kami berlutut sejajar. Jubah-jubah kami seragam, doa-doa kami seirama. Namun di balik keseragaman itu, aku melihat retakan. Ada yang berbicara tentang kasih, tetapi memeluk kekuasaan. Ada yang mengutip Injil, tetapi menutup mata saat yang lemah diinjak. Aku mendengar bisik-bisik di lorong, tawa kecil saat saudara lain dijatuhkan, dan keheningan panjang ketika kebenaran memerlukan pembela.

Malam-malamku menjadi semakin panjang. Aku sendirian di lantai atas gedung biara. Angin malam menyusup melalui lubang-lubang kecil yang sedikit terbuka, membawa hawa dingin yang menyentuh kulit seperti pengingat bahwa dunia di luar masih bergerak.

Dari ketinggian itu, lampu-lampu kota kupang tampak kecil dan jauh, seolah kehidupan lain sedang berlangsung tanpa aturan yang menyesakkan. Doaku sering berhenti di tengah kalimat. Kata-kata habis, air mata tidak. Dalam keheningan itu, aku mulai mendengar suara lain—bukan suara lonceng, bukan suara pemimpin, melainkan suara hati yang selama ini dikubur.

Kasih tidak melukai.

Kesetiaan tidak membunuh nurani.

Kalimat-kalimat itu datang tanpa diminta, seperti bisikan angin malam yang menyelinap melalui celah jendela.

    Aku menyadari sesuatu yang menakutkan: aku masih percaya, tetapi aku tidak lagi hidup. Iman telah berubah menjadi rutinitas, pelayanan menjadi kewajiban kosong, dan ketaatan menjadi topeng untuk bertahan. Aku menjadi asing bagi diriku sendiri. Setiap kali bercermin, aku melihat seorang biarawan yang tampak utuh, namun rapuh di dalam.

            Keputusan untuk pergi tidak lahir dari amarah. Ia lahir dari kelelahan yang terlalu lama dipendam. Malam itu, beberapa saat sebelum doa pukul 16.30 dimulai dan lonceng belum sempat berdentang, lorong-lorong biara masih dipenuhi langkah-langkah yang bergegas menuju kapel. Aku tidak ikut bergerak ke sana. Aku duduk di tepi ranjang dan menatap jubahku yang tergantung diam di balik pintu. Kain itu pernah menghangatkanku, pernah memberiku identitas, pernah membuatku merasa berada di tempat yang benar. Kini ia terasa seperti beban yang menekan dada—seolah setiap jahitannya menyimpan tuntutan yang tak sanggup lagi kupenuhi.

     Aku melipatnya perlahan—seperti melipat tahun-tahun doa, ketaatan, dan harapan yang tak pernah diberi tempat. Tanganku gemetar, bukan karena ragu, tetapi karena sadar: jalan ini sunyi, dan tak ada berkat perpisahan.

 Dari kejauhan, suara kursi-kursi mulai digeser, pintu kapel dibuka, dan bisik-bisik doa perlahan disiapkan. Tetapi aku tetap duduk dalam diam, menyadari bahwa langkahku malam ini bukan menuju altar, melainkan menuju gerbang.

     Aku melangkah keluar tanpa pamit. Gerbang biara terbuka dalam gelap, diterangi lampu halaman yang pucat. Di belakangku, lonceng kecil kembali berdentang pelan—mungkin tertiup angin, mungkin hanya gema yang tertinggal. Di depanku, jalan malam terbentang tanpa janji, tanpa jadwal doa, tanpa aturan yang menjamin keselamatan.

 Namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku bernapas penuh.

 Aku tidak meninggalkan Tuhan di balik tembok biara. Aku membawa-Nya bersamaku—dalam iman yang terluka, dalam kejujuran yang telanjang, dalam harapan bahwa kasih sejati tidak membutuhkan ketakutan untuk bertumbuh. Aku pergi bukan untuk menjadi bebas dari panggilan, tetapi untuk menyelamatkannya agar tidak mati di tangan kemunafikan.

Dan jika suatu hari Tuhan memanggilku kembali, biarlah Ia menemukanku bukan sebagai biarawan yang paling taat, tetapi sebagai manusia yang berani setia pada kebenaran—meski harus berjalan sendirian.

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Luka Menjadi Cermin Sekaligus Hukuman

“Di Antara Jalan, Tawa, dan Doa”.