Ketika Doa Menjadi Sunyi
Aku pergi bukan karena panggilan itu mati, melainkan karena ia terus dipaksa berteriak di tempat yang menolak mendengar. Pukul 16.00, langit telah menggelap perlahan, dan lonceng doa malam barusaja mulai. Dentangnya menggema seperti perintah—tepat waktu, tepat nada, namun tak pernah menanyakan keadaan jiwa yang mendengarnya. Lampu-lampu di lorong biara menyala redup, memantulkan bayangan panjang di dinding yang dingin.
Di kamar kecilku, cahaya kekuningan dari lampu meja menyentuh salib kayu yang tergantung miring. Aku menatapnya lama. Dahulu, salib itu menjadi tempat aku menggantungkan harapanku. Kini, ia menjadi saksi betapa sering aku menggantungkan diriku sendiri—antara taat dan hancur.
Di ruang pertemuan, kritik dibungkus dengan ayat-ayat Kitab Suci, dan hukuman diberi nama pembinaan. Tak ada ruang untuk bertanya, sebab pertanyaan dianggap benih pembangkangan.
Malam-malamku
menjadi semakin panjang. Aku sendirian di lantai atas gedung biara. Angin malam
menyusup melalui lubang-lubang kecil yang sedikit terbuka, membawa hawa dingin
yang menyentuh kulit seperti pengingat bahwa dunia di luar masih bergerak.
Dari
ketinggian itu, lampu-lampu kota kupang tampak kecil dan jauh, seolah kehidupan
lain sedang berlangsung tanpa aturan yang menyesakkan. Doaku sering berhenti di
tengah kalimat. Kata-kata habis, air mata tidak. Dalam keheningan itu, aku
mulai mendengar suara lain—bukan suara lonceng, bukan suara pemimpin, melainkan
suara hati yang selama ini dikubur.
Kasih tidak melukai.
Kesetiaan tidak membunuh nurani.
Kalimat-kalimat itu datang tanpa diminta, seperti bisikan angin malam yang menyelinap melalui celah jendela.
Aku menyadari sesuatu yang menakutkan: aku masih percaya, tetapi aku tidak lagi hidup. Iman telah berubah menjadi rutinitas, pelayanan menjadi kewajiban kosong, dan ketaatan menjadi topeng untuk bertahan. Aku menjadi asing bagi diriku sendiri. Setiap kali bercermin, aku melihat seorang biarawan yang tampak utuh, namun rapuh di dalam.
Keputusan
untuk pergi tidak lahir dari amarah. Ia lahir dari kelelahan yang terlalu lama
dipendam. Malam itu, beberapa saat sebelum doa pukul 16.30 dimulai dan lonceng
belum sempat berdentang, lorong-lorong biara masih dipenuhi langkah-langkah
yang bergegas menuju kapel. Aku tidak ikut bergerak ke sana. Aku duduk di tepi
ranjang dan menatap jubahku yang tergantung diam di balik pintu. Kain itu
pernah menghangatkanku, pernah memberiku identitas, pernah membuatku merasa
berada di tempat yang benar. Kini ia terasa seperti beban yang menekan
dada—seolah setiap jahitannya menyimpan tuntutan yang tak sanggup lagi
kupenuhi.
Dari kejauhan, suara
kursi-kursi mulai digeser, pintu kapel dibuka, dan bisik-bisik doa perlahan
disiapkan. Tetapi aku tetap duduk dalam diam, menyadari bahwa langkahku malam
ini bukan menuju altar, melainkan menuju gerbang.
Dan
jika suatu hari Tuhan memanggilku kembali, biarlah Ia menemukanku bukan sebagai
biarawan yang paling taat, tetapi sebagai manusia yang berani setia pada
kebenaran—meski harus berjalan sendirian.

Komentar
Posting Komentar