Luka Menjadi Cermin Sekaligus Hukuman


Di pojok hati yang sunyi sepih,

Terukir sebuah kisah yang tak pernah hilang.

Tidak hanya goresan pada kulit, Namun kenangan yang selalu menjerit.

Ya..kamu itu luka yang tak berdarah,

Membisu diam, lamban berserah.

Disetiap desahan napas yang terhembus,

mengulang kembali pahit yang bersemayam di sela-sela waktu.

Bak film bisu yang dipaksa ulang kembali,

Suara meredam, wajah memudar, sentuhan menjauh semua berlalu.

Jejaknya tetap mekar meski waktu terus menjauh,

Kucoba sembunyi dibalik senyuman yang pura-pura.

Menjahit janji palsu dari benang berpura-pura.

Namun malam hadir, menyentuhku dengan sapanya,

Membawa luka yang tak sanggup kutata.

Luka yang masih bernafas di celah-celah ingatan,

Ia berubah menjadi cermin yang menegur, sekaligus hukuman yang menetap.

Mengajarkanku getir di balik kehilangan,

Menjadi saksi sunyi, abadi dalam penyesalan.




Kupang, 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Doa Menjadi Sunyi

“Di Antara Jalan, Tawa, dan Doa”.