“Di Antara Jalan, Tawa, dan Doa”.
28 Desember 2025 menjadi tanggal yang tak pernah saya lupakan. Pagi itu, langit di Pulau Timor masih berwarna kelabu kebiruan ketika saya dan sahabat saya, Vian Nura, bersiap melakukan perjalanan menuju Kefamenanu—atau yang biasa disebut Kefa. Itu adalah perjalanan pertama saya ke sana, dan entah mengapa hati saya dipenuhi campuran rasa gugup dan antusias. Pukul 06.00 tepat, motorku mulai melaju membelah udara pagi. Ia duduk tegap di depan, kedua tangannya mantap memegang setang, sementara saya duduk di belakang sambil menikmati angin yang menyentuh wajah. Udara masih sejuk, aroma tanah dan rerumputan yang basah oleh embun terasa begitu segar. Sepanjang perjalanan, saya terpaku pada pemandangan alam yang terhampar luas—perbukitan hijau, ladang jagung yang menguning, dan pepohonan lontar yang berdiri kokoh seakan melambai menyapa. “Bagaimana? Seru, kan?” teriak Vian sedikit menoleh. “Sangat seru! Baru satu jam saja sudah begini indahnya,” jawab saya sambil tersenyum lebar. Kurang lebih ...