Lima Ribu di Sore Hari

 

Hujan turun pelan di sore itu, mengetuk atap kos Dhelyn seperti seseorang yang ragu-ragu ingin masuk. Angin membawa bau tanah basah yang entah kenapa selalu membuat kenangan terasa lebih dekat. Di dalam kamar kos dhelyn yang sempit dengan dinding bercat pucat, aku rebahan sambil menatap langit-langit yang mulai mengelupas. Ponselku bergetar di samping bantal.
“Posisi? Ada lima ribu ni..” isi chat dari Makun.
Aku tersenyum kecil. Lima ribu. Kata yang lebih sakral dari janji politik dan lebih jujur dari iklan diskon. Di antara kami, lima ribu hanya punya dua arti: Minum atau PS. Tidak ada tafsir lain. Tidak ada filosofi rumit. Hanya kesepakatan diam-diam yang tumbuh dari kebersamaan.
“Kos ni. Ada ko? Kalau ada na gass,” balasku cepat.
“Coba chat Nurak.”
“Oky.”
Jempolku langsung bergerak lincah.
“Posisi? Gas PS ko?” ku kirim pesan pada Nurak.
“Gasss..” jawab Nurak tanpa pikir panjang.
“Ok. Langsung ke tempat biasa... Saya tlfn Arki dulu.”
Tempat biasa. Ruangan kecil di ujung bandara el tari kupang, dengan beberapa televisi yang tertata rapi di hiasi dengan lampu berwarna ungu. Karpetnya tipis dan sedikit berdebu, stik PS sudah agak aus di bagian analog, dan kursinya tak pernah di geser. Tapi di situlah kami merasa seperti raja. Di situlah tawa kami sering meledak tanpa beban.
Saya menelepon Arki.
“Hallo?” suaranya terdengar berisik.
“Ko di mana?”
“Di lapangan futsal.”
Suara sepatu berdecit terdengar di belakangnya. Dadaku langsung panas.
“Kenapa tidak ajak kami mendo? Main futsal sendiri saja e? Kalau senang ko hilang, susah baru datang ketuk pintu kos” kataku, sambil tertawa. Gas PS ko?
Arki tertawa kecil. “Baru diajak dadakan. Lain kali kita satu tim. Jangan marah mendo, kamu duluan main PS nanti aku gabung.” Jawab arki
Ok kami tunggu” jawabku.
Tak lama kemudian aku, Makun, dan Nurak berjalan menembus gerimis menuju tempat PS. Lampu jalan memantul di genangan air, menciptakan bayangan yang bergoyang seperti mimpi yang belum selesai. Di dalam ruangan, suara komentator game sudah menyambut lebih dulu.
Kami langsung daftar hadir seperti biasa. Tidak perlu absensi, cukup duduk dan rebut stik.
Beberapa kemudian kemudian, Arki masuk dengan kaos hitam yang sedikit, rambutnya tertata rapi seperti mau jemput perempuan untuk kencan buta. Tangannya menggenggam sesuatu.
Aku memperhatikannya dengan harapan kecil yang tak terucap. Dalam hati aku berpikir, semoga dia bawa sebungkus rokok. Sebungkus saja cukup. Hujan, PS, dan rokok—itu sudah seperti paket lengkap kebahagiaan sederhana.
Arki mendekat, lalu mengeluarkan dari sakunya… satu batang rokok.
“Satu saja dulu, tadi beli ecer,” katanya santai sambil menyodorkan.
Aku melihatnya. Malboro kretek.
Aku menghela napas pelan. “Ko tau toh saya tidak suka ini.”
Bagiku, selera itu bukan perkara mahal atau murah. Aku hanya cocok 153 alias tahan lama. Rasanya lebih pas di tenggorokan, tidak terlalu keras, dan bisa menemani satu pertandingan penuh tanpa cepat habis. Ada semacam kesetiaan kecil di situ—setia pada rasa yang sudah dikenal.
Arki tertawa. “Rokok juga ko pilih-pilih sekali.”
“Ini bukan pilih-pilih. Ini prinsip,” jawabku setengah bercanda.
Kami akhirnya berbagi satu batang itu, bergantian di sela-sela pertandingan. Asapnya bercampur dengan udara ruangan yang hangat oleh teriakan dan tawa. Meski bukan seleraku, tetap saja ada rasa kebersamaan yang tidak bisa dibeli dengan merek apa pun.
Pertandingan dimulai. Nurak berteriak setiap kali hampir mencetak gol. Makun menyalahkan stik setiap kali kalah. Aku dan Arki saling sindir, saling ejek, lalu tertawa lagi.
Di luar, hujan masih turun perlahan. Di dalam, kami seperti lupa bahwa hidup kadang tidak selalu mudah. Uang kami pas-pasan. Kadang lima ribu harus dipikir dua kali. Tapi tetap saja, dari kami kalau ada yang chat “lima ribu” duluan, itu bukan tentang uang. Itu tentang memanggil pulang.
Tentang memastikan tak ada yang benar-benar sendiri.
Malam semakin larut. Asap rokok terakhir menghilang di udara. Skor akhir tak lagi penting. Yang penting kami duduk berdampingan, masih bisa saling mengejek, masih bisa saling marah tanpa benar-benar pergi.
Dan aku tahu, esok atau lusa, ketika hujan turun lagi dan ponsel kembali berbunyi:
“Posisi? Ada lima ribu ni..”ss
Kami akan selalu menjawab.
Karena persahabatan kami memang sesederhana itu.
lima ribu, satu tempat PS, satu batang rokok yang mungkin tidak sesuai selera, dan tawa yang selalu berhasil membuat hidup terasa cukup.



Kupang, 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Doa Menjadi Sunyi

Luka Menjadi Cermin Sekaligus Hukuman

“Di Antara Jalan, Tawa, dan Doa”.