** Senja yang Tertinggal di Larantuka**
Sore itu,
matahari perlahan tenggelam
di pelukan langit Larantuka,
seperti waktu yang enggan berpisah
namun tak punya pilihan.
Lampu-lampu kota mulai bernyala,
menghias sunyi taman dan jalanan,
sementara aku berdiri di tepi waktu,
menunggu seseorang
yang lama hanya tinggal dalam kenangan.
Lalu kau datang—
dari seberang jalan,
membawa senyum yang sederhana
namun cukup untuk membuat hatiku
kembali percaya pada rasa.
Sapamu hangat,
jabatan tanganmu nyata,
dan langkah kita mengalir
menuju cerita yang tertunda.
Di warung kecil,
lalu di rumahmu,
kita duduk bersama secangkir kopi
dan laut yang luas di depan mata—
kapal-kapal berlayar
seperti mimpi yang tak pernah diam.
Malam itu,
kita menukar cerita—
tentang masa kecil,
tentang keluarga,
tentang luka yang pernah diam-diam kita simpan.
Hingga satu pertanyaanmu jatuh
seperti batu di dasar hati:
*"Apa komitmenmu setelah kuliah?"*
Aku terdiam—
bukan karena tak punya jawaban,
tapi karena masa depan
terasa terlalu jauh untuk dijanjikan.
“Setelah selesai kuliah,
baru aku bisa membuat keputusan,” kataku,
pelan…
seakan takut kehilangan sesuatu
yang belum sempat kumiliki sepenuhnya.
Malam itu menjadi saksi,
bahwa pertemuan bukan selalu tentang memiliki,
kadang hanya tentang mengingat
bahwa kita pernah saling berarti.
Dan kini,
aku harus pergi—
meninggalkan Larantuka,
meninggalkanmu,
meninggalkan senja yang tak sempat kita ulang.
Air matamu jatuh,
seperti laut yang tak mampu menahan pasang,
seperti kehilangan
yang tak pernah siap kita terima.
Di antara jarak dan waktu,
aku membawa satu hal:
bahwa di kota kecil itu,
pernah ada kita—
yang sederhana,
namun tak mudah dilupakan.

Komentar
Posting Komentar