Postingan

** Senja yang Tertinggal di Larantuka**

Gambar
Sore itu, matahari perlahan tenggelam di pelukan langit Larantuka, seperti waktu yang enggan berpisah namun tak punya pilihan. Lampu-lampu kota mulai bernyala, menghias sunyi taman dan jalanan, sementara aku berdiri di tepi waktu, menunggu seseorang yang lama hanya tinggal dalam kenangan. Lalu kau datang— dari seberang jalan, membawa senyum yang sederhana namun cukup untuk membuat hatiku kembali percaya pada rasa. Sapamu hangat, jabatan tanganmu nyata, dan langkah kita mengalir menuju cerita yang tertunda. Di warung kecil, lalu di rumahmu, kita duduk bersama secangkir kopi dan laut yang luas di depan mata— kapal-kapal berlayar seperti mimpi yang tak pernah diam. Malam itu, kita menukar cerita— tentang masa kecil, tentang keluarga, tentang luka yang pernah diam-diam kita simpan. Hingga satu pertanyaanmu jatuh seperti batu di dasar hati: *"Apa komitmenmu setelah kuliah?"* Aku terdiam— bukan karena tak punya jawaban, tapi karena masa depan terasa terlalu jauh untuk dijanjikan. “...

“Di Antara Jalan, Tawa, dan Doa”.

Gambar
28 Desember 2025 menjadi tanggal yang tak pernah saya lupakan. Pagi itu, langit di Pulau Timor masih berwarna kelabu kebiruan ketika saya dan sahabat saya, Vian Nura, bersiap melakukan perjalanan menuju Kefamenanu—atau yang biasa disebut Kefa. Itu adalah perjalanan pertama saya ke sana, dan entah mengapa hati saya dipenuhi campuran rasa gugup dan antusias. Pukul 06.00 tepat, motorku mulai melaju membelah udara pagi. Ia duduk tegap di depan, kedua tangannya mantap memegang setang, sementara saya duduk di belakang sambil menikmati angin yang menyentuh wajah. Udara masih sejuk, aroma tanah dan rerumputan yang basah oleh embun terasa begitu segar. Sepanjang perjalanan, saya terpaku pada pemandangan alam yang terhampar luas—perbukitan hijau, ladang jagung yang menguning, dan pepohonan lontar yang berdiri kokoh seakan melambai menyapa. “Bagaimana? Seru, kan?” teriak Vian sedikit menoleh. “Sangat seru! Baru satu jam saja sudah begini indahnya,” jawab saya sambil tersenyum lebar. Kurang lebih ...

Lima Ribu di Sore Hari

Gambar
  Hujan turun pelan di sore itu, mengetuk atap kos Dhelyn seperti seseorang yang ragu-ragu ingin masuk. Angin membawa bau tanah basah yang entah kenapa selalu membuat kenangan terasa lebih dekat. Di dalam kamar kos dhelyn yang sempit dengan dinding bercat pucat, aku rebahan sambil menatap langit-langit yang mulai mengelupas. Ponselku bergetar di samping bantal. “Posisi? Ada lima ribu ni..” isi chat dari Makun. Aku tersenyum kecil. Lima ribu. Kata yang lebih sakral dari janji politik dan lebih jujur dari iklan diskon. Di antara kami, lima ribu hanya punya dua arti: Minum atau PS. Tidak ada tafsir lain. Tidak ada filosofi rumit. Hanya kesepakatan diam-diam yang tumbuh dari kebersamaan. “Kos ni. Ada ko? Kalau ada na gass,” balasku cepat. “Coba chat Nurak.” “Oky.” Jempolku langsung bergerak lincah. “Posisi? Gas PS ko?” ku kirim pesan pada Nurak. “Gasss..” jawab Nurak tanpa pikir panjang. “Ok. Langsung ke tempat biasa... Saya tlfn Arki dulu.” Tempat biasa. Ruangan kecil di ujung bandar...

Luka Menjadi Cermin Sekaligus Hukuman

Gambar
Di pojok hati yang sunyi sepih, Terukir sebuah kisah yang tak pernah hilang. Tidak hanya goresan pada kulit, Namun kenangan yang selalu menjerit. Ya..kamu itu luka yang tak berdarah, Membisu diam, lamban berserah. Disetiap desahan napas yang terhembus, mengulang kembali pahit yang bersemayam di sela-sela waktu. Bak film bisu yang dipaksa ulang kembali, Suara meredam, wajah memudar, sentuhan menjauh semua berlalu. Jejaknya tetap mekar meski waktu terus menjauh, Kucoba sembunyi dibalik senyuman yang pura-pura. Menjahit janji palsu dari benang berpura-pura. Namun malam hadir, menyentuhku dengan sapanya, Membawa luka yang tak sanggup kutata. Luka yang masih bernafas di celah-celah ingatan, Ia berubah menjadi cermin yang menegur, sekaligus hukuman yang menetap. Mengajarkanku getir di balik kehilangan, Menjadi saksi sunyi, abadi dalam penyesalan. Kupang, 2026

Ketika Doa Menjadi Sunyi

Gambar
  Aku pergi bukan karena panggilan itu mati, melainkan karena ia terus dipaksa berteriak di tempat yang menolak mendengar. Pukul 16.00, langit telah menggelap perlahan, dan lonceng doa malam barusaja mulai. Dentangnya menggema seperti perintah—tepat waktu, tepat nada, namun tak pernah menanyakan keadaan jiwa yang mendengarnya. Lampu-lampu di lorong biara menyala redup, memantulkan bayangan panjang di dinding yang dingin. Di kamar kecilku, cahaya kekuningan dari lampu meja menyentuh salib kayu yang tergantung miring. Aku menatapnya lama. Dahulu, salib itu menjadi tempat aku menggantungkan harapanku. Kini, ia menjadi saksi betapa sering aku menggantungkan diriku sendiri—antara taat dan hancur.   Ia menyebut kekerasan sebagai pembentukan. Suaranya keras, langkahnya pasti, dan keputusannya tidak pernah keliru—setidaknya di hadapan komunitas. Ia mengajarkan bahwa kehendak pribadi adalah musuh, bahwa diam adalah bentuk iman tertinggi. Namun setiap kata yang jatuh dari bibirnya men...